Lynx berdiri diam memejamkan mata merasakan kertas formasi yang di berikannya ke Lala, tidak lama mencari, Lynx berhasil merasakannya. Wajahnya terlihat gembira walaupun dia merasa heran, lokasinya sangat jauh dari tempat mereka berada saat ini.

Sementara itu, Leena yang menikmati suasana kelap kelip lampu kota, teringat kejadian beberapa saat yang lalu sebelum mereka tiba di tempat ini.

***

Beberapa saat sebelumnya, di planet Yura, tak lama setelah Leena selesai diobati, Lynx tiba-tiba merasakan sesuatu. Pria tua, seorang teknisi yang membantu mereka membuat komponen mesin dimensi milik Lala, telah tiba di planet Yura. Tanpa membuang waktu, ia mengajak Leena menemuinya. Wajahnya tampak tegang, matanya menyiratkan harapan yang nyaris putus.

Mereka bergegas ke dermaga dua di dekat pesawat Sara mendarat. Di sana, seorang pria tua dengan rambut putih awut-awutan dan pakaian kusam berdiri di antara lalu lalang pesawat luar angkasa. Ketika melihat mereka, pria itu langsung melambaikan tangan dengan senyum lebar, wajahnya cerah seperti anak kecil menemukan mainan baru. Di tangannya, tergenggam sebuah benda kecil berbentuk seperti penggaris logam, tipis dan berwarna keperakan.

"Bagaimana? Apakah berhasil?" tanya Leena tak sabar, langkahnya cepat menghampiri.

Pria tua itu mengangguk, lalu mengangkat komponen kecil itu dengan bangga. "Tak sebaik komponen aslinya, tapi aku yakin cukup untuk membuat mesin itu hidup sementara waktu. Aku tak bisa membuatnya di sini, terlalu banyak keterbatasan. Jadi aku pergi ke planet lain, pakai bengkel tua milik kawanku," katanya, tertawa pelan sambil mengelus janggutnya yang kusut.

"Itu sudah cukup. Yang penting bisa mengirimkan sinyal ke tempat tujuan," ucap Lynx dengan nada lega.

Tanpa membuang waktu, mereka kembali ke bangunan tempat tinggal si pria tua sekaligus tempat dia biasa bekerja. Lynx mengeluarkan mesin dimensi dari cincin penyimpanannya dan menyerahkannya kepada pria tua tersebut. Namun begitu alat itu menyentuh meja kerja, si pria tua langsung menunduk dan mulai merakitnya. Jarinya lincah, matanya tajam menelusuri tiap sambungan seolah sudah menghafal seluruh sistem di luar kepala.

Beberapa menit berlalu. Komponen kecil itu sudah terpasang. Ia juga menyerahkan sebuah baterai portabel berbentuk silinder kecil yang mengandung energi padat.

"Cobalah, aku tidak yakin apakah alat itu bisa bekerja, tetapi aku yakin dengan komponen yang kupasang, mesin itu bisa hidup. Aku hanya bisa membantu kalian hingga mesin ini menyala kembali. Aku juga menyiapkan ini, untuk mengisi dayanya," ujarnya sambil menyodorkan benda itu pada Lynx.

Lynx menerimanya dengan anggukan singkat,"Itu sudah cukup. Selama bisa menyala, seharusnya sudah bisa kami gunakan." Lalu dia merogoh ke dalam pakaiannya dan mengeluarkan sekantung penuh uang krun. Ia menyerahkannya pada si pria tua yang tampak terkejut.

“Sebanyak ini...?”

“Ambillah. Kau pantas mendapatkannya,” ujar Lynx tenang.

Tanpa menunda lagi, Lynx dan Leena segera keluar dari ruangan. Begitu mereka memastikan tidak ada yang mengawasi, keduanya menghilang dan bergerak cepat menuju lokasi terpencil, jauh dari keramaian kota.

Di tengah langkah mereka, Leena melirik Lynx dan bertanya dengan nada curiga, "Lynx, dari mana kamu dapat uang krun sebanyak itu? Jangan bilang... kamu ambil dari arena kematian?"

Lynx tertawa pendek. "Aku mengambilnya dari Mona dan orang-orang yang mencoba menyerangku. Kupikir, karena dia sudah tewat, lebih baik uangnya digunakan untuk sesuatu yang berguna."

Leena menghela napas. "Mona... Aku tak menyangka mereka bertiga bersaudara ternyata sekejam itu."

"Sudahlah. Yang penting, kali ini kita punya kesempatan untuk menemukan Lala. Aku tidak akan menyia-nyiakannya." Lynx mengencangkan genggaman tangannya ke Leena dan membantunya agar bisa lebih cepat mencapai tempat yang mereka tuju.

Setibanya di tempat yang cukup sunyi, Lynx segera mempersiapkan energi iblis dan memasangkan cincin serta baterai portabel yang diberikan pria tua untuk mengaktifkan mesin tersebut.

Perangkat itu segera aktif, dan mengirimkan sinyal kembali ke satelit. Lynx memejamkan mata, kesadarannya mengikuti aliran sinyal yang terpancar dari mesin.

"Bagaimana, Lynx?" Leena bertanya penuh harap.

Lynx membuka mata perlahan. "Bagus. Aku berhasil menemukannya. Gelombangnya jelas,berhenti di satu titik. Tidak mungkin salah lagi."

Ia menatap mesin yang masih menyala dan mencabut cincin yang terpasang lalu menyimpannya kembali ke cincin penyimpanan. Meskipun tak tahu pasti bagaimana cara kerja sepenuhnya, ia mengingat ucapan Lala dahulu, alat itu akan menghubungi satelit untuk membukakan gerbang dimensi ke titik mesin ini berada.

"Isha... Bagaimana dengannya?" tanya Leena tiba-tiba. "Kita tak bisa membiarkannya begitu saja."

"Aku berniat membawanya ke Kota Zhurong dan mencarikan keluarga untuknya. Tapi untuk sekarang, ada tempat yang lebih aman sampai kita kembali," jawab Lynx. Ia lalu menghilang sekejap, dan beberapa detik kemudian muncul kembali dengan Isha di pelukannya, masih tertidur lelap.

Lynx mengeluarkan sebuah artefak dari cincin penyimpanannya, sebuah benda lonjong seukuran genggaman tangan, dengan ukiran rumit yang memancarkan cahaya lembut lalu mengaktifkannya. Segera sebuah portal terbuka.

"Artefak itu..." Leena terkejut. "Bukankah ini,"

"Ya. Dunia kecil tempat kita mengejar Yin Yue waktu itu," potong Lynx.

"Ayo." Ia meraih tangan Leena dan memasuki dunia kecil tersebut.

Begitu mereka tiba, Lynx menurunkan Isha di atas tanah rumput yang lembut. Dengan kekuatan elemen tanah yang dipadukan elemen api, ia menciptakan rumah sederhana dari tanah keras, lengkap dengan perlindungan formasi yang mencegah siapa pun masuk atau keluar.

Ia lalu mengeluarkan banyak makanan dari cincin penyimpanannya, menumpuknya di dalam rumah kecil itu sebagai bekal.

"Kapan Isha akan bangun? Apa kau tak bisa membangunkannya?" tanya Leena.

"Aku sengaja membiarkannya tertidur. Ia butuh istirahat. Dan kita... butuh waktu untuk menemukan Lala tanpa gangguan," jawab Lynx tenang.

Leena menatapnya heran. "Sejak kapan kamu bisa menggunakan elemen seperti itu? Baru sekarang kulihat kamu membentuk sesuatu."

"Sebagai grandmaster, kamu juga bisa. Lain kali akan kuajarkan." Lynx tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya. "Ayo kembali."

Begitu mereka keluar dari dunia kecil, Lynx segera menciptakan portal dimensi. Energi di sekitarnya bergelombang, dan sekejap kemudian, tubuh mereka menghilang dari planet Yura,menuju dunia asing tempat Lala berada. Dunia yang kini menanti mereka dengan tantangan yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.

***

"Leena, aku sudah menemukan posisi kertas formasi yang kuberikan kepada Lala. Saat ini, hanya itu satu-satunya harapan kita untuk menemukannya," kata Lynx sambil menoleh, membuyarkan lamunan Leena yang tengah memandangi kemilau kota modern.

"Ah, iya... baguslah," ucap Leena agak terkejut, tersadar dari pikirannya. Ia memang sudah lama merindukan suasana ramai seperti ini, gemerlap cahaya yang bersinar dari setiap penjuru, hiruk-pikuk kehidupan malam yang menggeliat dalam warna dan suara. Meskipun kota ini terlalu mewah dan asing dibandingkan tempat asalnya, tetap saja ada nuansa hangat yang mengingatkannya pada dunia sebelum semua berubah. Jauh lebih hidup daripada heningnya dimensi para kultivator, apalagi dibandingkan planet Surya yang hanya dihiasi hamparan hutan dan sunyinya alam liar.

"Bersiaplah, kita kesana sekarang. Aku akan membuka portal teleportasi, tempatnya cukup jauh, dan dari aliran energinya, mereka tampaknya sedang bergerak cepat," ujar Lynx.

Ia mengangkat tangan, membentuk formasi sederhana di udara. Dia berniat membuat portal teleportasi ke titik awal dia merasakannya, lalu berencana mengejar mereka dengan berlari. Dalam hitungan detik, celah dimensi terbuka, menampakkan sisi lain yang samar dan bergelombang.

Namun, sesuatu terjadi.

Tepat ketika portal teleportasi berhasil terbuka, air dalam jumlah sangat besar bagaikan air bah menerobos masuk dari sisi lain teleportasi dan menerobos keluar dari sisi Lynx dan Leena berada.

Dengan cepat, Lynx menarik Leena untuk menghindar.

Ekspresi Leena terlihat pucat dan matanya membesar, kaget dengan yang terjadi. Lynx dengan cepat menutup teleportasi kembali untuk menghentikan air yang mengalir deras.

Namun sebelum sempat Leena berkata, jeritannya pecah saat seekor makhluk aneh meluncur dari genangan tipis yang tersisa, kepala seperti ikan, tubuh licin memanjang seperti ular.

"Lynx..." Teriak leena saat di dekat kakinya terlihat binatang berkepala ikan bertubuh panjang seperti ular.

Dengan cepat Lynx menangkap Leena yang melompat ke arahnya dan siaga. Namun setelah melihat penyebab Leena ketakutan, Lynx hanya tertawa di dalam hati. "Dasar wanita. Bukan cuma ulat, ternyata binatang air seperti ini bisa membuatnya takut."

